Ingin Berlibur Sambil Belajar, Yuk Berwisata Ke Kota Tua Jakarta


Di Jakarta, kamu gak cuma dapat menjumpai obyek wisata yang memiliki bau kekinian saja, ada pula tujuan yang kaya nilai histori. Kalau tertarik, kamu dapat mendatangi area wisata Kota Tua Jakarta. Disana, kamu dapat dimanja dengan situasi ibu kota tempo dahulu. Baca artikel ini kalaupun kamu mau memperoleh kabar komplet terkait tujuan ini.

Kalaupun kamu mau rasakan situasi ibu kota tempo dahulu, kamu dapat mendatangi area Wisata Tua Jakarta. Tidak hanya liburan, kamu bisa juga belajar terkait histori Kota Jakarta. Untuk sadari apapun yang berada di sana, kamu dapat baca di artikel ini.

Read More

Area ini jadi satu diantaranya tujuan obyek wisata di Jakarta sebagai pujaan pelancong, baik pelancong dalam negeri atau luar negeri. Tempat ini termasuk unik sebab Kota Jakarta sendiri diketahui dengan perihal yang serba kekinian, tetapi bangunan kuno serta nuansa dulu kala dari area wisata Kota Tua Jakarta masih dapat bertahan.

Tentulah, tempat ini dapat jadi pilihan kalaupun kamu sedang jenuh dengan hiruk pikuk kota metropolitan. Untuk memperoleh kabar jelas dan lengkap terkait tujuan ini, langsung saja baca pengkajian dibawah ini, yuk!
Histori Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta sesuatu area yang punya luas lebih kurang 1,3 kmĀ² yang terdapat di Jakarta Utara serta sejumlah Jakarta Barat, adalah Pinangsia, Taman Sari, serta Roa Malaka. Dahulunya, tempat ini diketahui dengan istilah Batavia Lama.

Kota Tua sesuatu area yang dibuat oleh kolonial Belanda yang diperlukan jadi pusat perdagangan dari serta keluar negeri melalui jalan pelayaran. Tempat ini pun dipandang punya narasi histori yang erat keterkaitannya dengan perjuangan bangsa Indonesia menantang penjajah.

Pada mulanya, yang pasti di tahun 1526, Kesultanan Demak kirim utusannya yang memiliki nama Fatahillah untuk menyerang Pelabuhan Sunda Kelapa di Kerajaan Hindu Pajajaran yang setelah itu diketahui dengan nama Jayakarta. Lalu pada 1619, VOC memusnahkan area Jayakarta itu dibawah komando Jan Pieterszoon Coen.

1 tahun setelah itu, VOC membuat kota baru yang disebut Batavia. Kota ini dibuat untuk menghargai leluhur Belanda, Batavieren. Kota ini berpusat di kira-kira pinggir timur Sungai Ciliwung yang sekarang ini diketahui jadi Lapangan Fatahillah.

Masyarakat yang tempati kota itu memperoleh julukan Batavianen yang setelah itu diketahui jadi Suku Betawi. Di tahun 1935, kota ini alami pelebaran sampai ke pinggir barat Sungai Ciliwung.

Kota ini punya perancangan bergaya Belanda Eropa yang diperlengkapi dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, serta kanal. Pembangunannya sendiri baru usai pada tahun 1650 selanjutnya diperlukan untuk kantor pusat VOC di Hindia Timur.

Tetapi sebab mode sanitasi yang jelek, di area ini sempat ada wabah tropis yang menyerang masyarakat. Setelah itu banyak orang-orang yang keluar dari kota itu ketujuan ke lokasi Weltevreden yang saat ini adalah area di kira-kira Lapangan Merdeka.

Sebab peristiwa itu, pada akhirnya lokasi administratif Kota Batavia lantas meluas sampai ke selatan. Batavia setelah itu jadi pusat administratif Hindia Timur Belanda.

Waktu kependudukan Jepang pada 1942, Batavia berganti namanya jadi Jakarta serta masih bertindak jadi Ibu Kota Indonesia. Setelah itu pada 1972, Gubernur Jakarta pada waktu itu, Ali Sadikin, keluarkan dekret untuk membuat Kota Tua jadi situs warisan dengan cara sah.

Ketentuan ini ditujukan buat perlindungan histori arsitekturnya. Seperti yang dapat kita lihat sekarang ini, terdapat banyak bangunan yang tak alami pergantian relevan dari sisi perancangan bangunannya.
Tujuan Menarik di Area Wisata Kota Tua Jakarta

Area wisata Kota Tua Jakarta adalah tujuan yang cukuplah luas. Karenanya, ada beberapa tempat wisata yang dapat kamu dapatkan di area ini.

Tentulah, bermacam ragam tujuan yang ada sarat dapat histori. Tidak hanya liburan, kamu bisa juga memperoleh pemahaman penambahan waktu mengunjunginya.

Kurang lebih apapun ya tujuan yang berada di area obyek wisata Kota Tua Jakarta? Langsung saja baca infonya dibawah ini.

1. Museum Fatahillah

Dahulunya, Museum Fatahillah sesuatu bangunan yang diperlukan jadi balai kota Batavia. Bangunan ini dibuat pada tahun 1707-1712 atas perintah dari Gubernur Joan van Hoorn. Arsitekturnya sendiri serupa bangunan Istana Dam yang berada di Amsterdam, Belanda.

Bangunan ini terdiri atas bangunan pokok yang punya dua sayap pada bagian barat serta timur, bangunan sanding yang berperan jadi kantor, area pengadilan, serta area bawah tanah yang diperlukan jadi penjara.

Penjara bawah tanah itu adalah saksi bisu terkait bagaimana penderitaan bangsa Indonesia sebagai tawanan waktu periode penjajahan Belanda. Banyak tawanan yang jatuh sakit, serta sampai wafat sebab gak kuat dengan siksaan yang mereka terima.

Oleh karenanya, banyak orang-orang yang merasa kalaupun penjara bawah tanah ini adalah tempat di Museum Fatahillah yang paling angker. Lepas dari itu, bangunan yang dengan cara sah dipindahkan gunanya jadi museum pada tahun 1974 ini amat pantas untuk disinggahi, ditambah lagi kalaupun kamu sukai obyek wisata yang memiliki bau museum yang sarat dapat histori.

Ada bermacam koleksi yang dapat kamu dapatkan di Museum Fatahillah ini. Koleksi itu salah satunya yakni tiruan peninggalan periode Tarumanegara serta Pajajaran, hasil penggalian arkelogi yang dijalankan di Kota Jakarta, koleksi keramik, gerabah, bermacam perabot antik, serta banyak barang bersejarah yang lain.

2. Pelabuhan Sunda Kelapa

Obyek wisata bersejarah yang ada di area Kota Tua setelah itu Pelabuhan Sunda Kelapa. Tempat ini adalah mula-mula bagaimana Kota Jakarta mulai terkenal di pelosok dunia.

Dahulunya, banyak pedagang asing yang hadir ke Indonesia lewat pelabuhan ini. Kira-kira zaman ke-12, banyak pedagang yang datang dari Tiongkok berlayar ke Indonesia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa untuk bawa barang kerajinan berbentuk keramik serta kain sutera untuk diganti dengan rempah-rempah.

Tidak hanya pedagang Tiongkok, juga banyak pedagang dari Arab serta India yang lakukan barter untuk memperoleh rempah-rempah dengan parfum serta kain yang dibawa. Pertalian dagang lintas negara ini berjalan sampai zaman ke-16.

Dengan pertalian dagang antar negara ini, Pelabuhan Sunda Kelapa terus jadi pusat perdagangan yang berada di Indonesia. Tempat ini jadi pusat perdagangan yang tetap ramai dengan kesibukan jual beli antar negara pada waktu itu.

Meskipun kesibukan pelabuhan telah gak seramai dulu kala, tetapi pelabuhan ini masih bekerja serta berperan jadi dermaga transportasi laut. Di sini kamu dapat menemukannya banyak kapal phinisi yang berjajar di dermaga yang membuat panorama dalam tempat ini cukup unik.

Hebatnya , kapal-kapal itu adalah hasil karya anak bangsa, loh. Tempat ini akan pas untuk kamu yang hoby cari foto-foto dengan latar yang indah.

Pelabuhan Sunda Kelapa ini dapat jadi pilihan pilihan kalaupun kamu mau mendatangi obyek wisata yang gak biasa. Dalam tempat ini kamu bisa juga lakukan sejumlah kesibukan menarik.

Satu diantaranya yakni menyewa ojek sampan yang dapat membawamu telusuri perairan di kira-kira pelabuhan. Harga sewanya sendiri dibanderol dimulai dari Rp50.000 untuk sekali jalan.

Tetapi, bisa saja biaya yang kamu bayarkan tambah mahal sebab bergantung dari jauh dekatnya rute. Alangkah lebih baik sebelum naik lakukan tawar menawar sebab kerapkali tukang ojek sampan sukai melebihkan bea dari harga setidaknya.

3. Toko Merah

Kalaupun kamu sedang terasa di area Kota Tua Jakarta Barat, tiada kelirunya untuk singgah ke suatu bangunan unik yang memiliki nama Toko Merah. Sesuai namanya, bangunan ini didominasi oleh warna merah.

Bangunan ini adalah peninggalan dari kolonial Belanda yang terdapat ditepi barat Kali Besar, Kota Tua Jakarta. Dibuat pada tahun 1730, Toko Merah adalah bangunan paling tua yang berada di Jakarta.

Dahulunya, Toko Merah jadikan jadi hunian dari Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff. Sesudah itu, yang pasti pada pertengahan zaman ke-19, tempai ini berubah kegunaan jadi suatu toko yang dipunyai oleh masyarakat Tionghoa yang memiliki nama Oey Liauw Kong.

Sejak mulai itu, tempat itu disebut Toko Merah atas fundamen kebanyakan bangunan didominasi oleh warna merah. Tetapi, ada vs berlainan terkait faktor mengapa bangunan itu dinamakan Toko Merah.

Sejumlah orang yakin kalaupun nama Toko Merah diambil selesai berlangsung momen Geger Pacinan yang mengonsumsi banyak korban jiwa. Selesai momen itu, banyak diketemukan mayat orang Tionghoa yang bersebaran di area Kali Besar, sampai air sungainya menjadi merah sebab darah.

Lepas dari ketidaksamaan itu, tempat wisata Toko Merah ini jadi satu diantaranya pilihan tujuan yang kudu kamu singgahi. Meskipun pengunjungnya gak seramai Museum Fatahillah, tetapi tempat ini punya daya tarik spesifik.

Satu diantaranya yakni kamu dapat ambil poto dengan objek yang unik serta tak dapat kamu dapatkan di lain tempat. Oya, untuk dapat memandang isi dari Toko Merah ini, kamu mesti memohon ijin dahulu sama pengurusnya sebab tempat ini tak asal-asalan dibuka untuk publik.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *